Sunday, November 30, 2008

Gears of War 2 – Epic Games – Third-Person Shooter

Cerita game ini masih melanjutkan kisah sebelumnya dan mengambil setting waktu enam bulan setelah akhir dari Gears of War pertama, dimana Lightmass Bomb yang diledakkan, telah berhasil memusnahkan sebagian besar Locust Horde. Namun, ledakan itu menyebabkan banyak zat Imulsion yang menguap dan mengakibatkan adanya penyakit yang disebut “Rust Lung” menjangkit populasi manusia. Setelah sejenak saat yang damai, kota Tollen dan Montevado secara misterius menghilang, mengarahkan dugaan atas kejadian tersebut pada Locust. Tidak lama setelah itu, Jacinto Plateau, kediaman terakhir manusia, menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya hal serupa. Untuk menghentikan kejatuhan Jacinto, maka COG harus kembali berperang dengan para Locust demi harapan umat manusia. Masih sama seperti sebelumnya, cerita yang dibawakan oleh game ini masih tetep keren dan membuat loe penasaran dengan kelanjutannya, bahkan dengan plot yang lebih dalam kali ini. Enggak gue ragukan lagi kalau salah satu aspek terkuat pada game ini emang terletak pada cerita.

Di game-nya yang kedua ini, loe kembali bertemu dengan Marcus dan Dom sebagai dua karakter playable utama. Seiring dengan perjalanan loe, loe bakalan kumpul lagi bareng temen-temen loe, dari yang lama kayak Cole dan Baird, sampai yang baru nongol kayak Tai Kaliso, Benjamin Carmine (adik dari Anthony Carmine), dan Dizzy Wallin. Gameplay dari game ini masih sama seperti sebelumnya, dimana loe bakal menggerakkan karakter loe dengan sudut pandang third-person “over the shoulder.” Seperti sebelumnya, loe juga bakalan bergerak secara tim, dimana loe perlu banget buat saling bahu membahu dalam melewati rintangan serta lawan-lawan loe. Terutama di beberapa bagianyang sangat membutuhkan kerjasama antara loe dan karakter kedua (Dom). Misalnya aja, sewaktu loe mengangkut peledak yang harus loe bawa bareng karakter kedua. Hal ini bakalan lebih terasa menantang sewaktu loe mainkan bareng player dua. Bagian-bagian ini telah membuat game ini jadi terasa lebih seru dan lebih realistis dari sebelumnya. Game ini jadi terasa menyajikan simulasi perang yang lebih real.

Sama seperti di game sebelumnya, menembaki lawan terang-terangan secara frontal dan membabi-buta itu enggak akan membuat loe menang. Loe perlu memanfaatkan objek-objek yang bisa loe pakai sebagai tempat berlindung. Bisa loe bayangkan kalau posisi ngumpet loe masih belum aman, misalnya masih ada celah dari loe yang bisa musuh loe manfaatkan, pastinya umur loe enggak bakalan panjang. AI dari para musuh yang ada di game ini juga bisa terbilang cukup cerdas. Mereka enggak bakalan tinggal diam aja sewaktu loe hujani dengan peluru. Mereka bakalan berpindah atau melakukan variasi yang lainnya, walaupun untuk beberapa bagian, mereka bakalan melakukan sesuatu yang pasti menurut program. Seperti sebelumnya, loe juga enggak akan langsung mati. Loe bakalan sekarat dan menunggu temen loe datang untuk membangkitkan loe lagi, namun kali ini loe bisa bergerak ‘ngesot’ menghampiri temen loe supaya lebih mempermudah mereka dalam menghidupkan loe. Enggak cuma itu aja, loe juga bisa nge-tap tombol A supaya ‘ngesot’ loe jadi lebih cepat. Dengan begitu, maka loe bisa berusaha bertahan dan kabur sebelum loe bener-bener mati atau dibuat mati oleh injakan ala locust. Musuh-musuh loe juga bisa sekarat sama kayak loe. Selama mereka masih sekarat dan belum mati, loe bisa menghampiri mereka dan menjadikan mereka “meat shield” atau perisai hidup yang bisa loe manfaatkan untuk menyerang.

Senjata-senjata baru juga bakalan memanjakan loe di GoW2 ini. Berbagai senjata baru yang cukup jadi favorit udah gue temukan di game ini. Mulai dari mortar, flamethrower, boomshield, dan lainnya. Salah satu yang jadi favorit gue di game ini adalah boomshield yang bisa memberikan loe excellent defense. Dengan berlindung di balik boomshield yang loe bawa, berbagai macam tembakan bisa loe tahan. Namun, dibalik kelebihan tersebut, loe enggak bisa menggunakan senjata selain one-handed gun. Senjata-senjata ini telah dibuat sedemikian rupa supaya bisa menyajikan game yang lebih balance dan menarik tentunya. Selain itu, loe juga punya variasi yang lebih banyak dan menarik dalam hal serangan melee. Serangan chainsaw yang jadi khas GoW juga masih jadi sajian loe kali ini. Yang serunya, loe juga bakalan menghadapi lawan dengan senjata yang hampir serupa dengan lancer assault rifle loe, dan mereka juga bisa melakukan inisiatif yang sama untuk melakukan serangan chainsaw sama seperti yang bisa loe lakukan. Apabila loe berinisiatif untuk melakukan serangan chainsaw, maka lawan loe dengan senjata yang serupa tersebut juga dapat mengantisipasi hal itu dan loe akan memasuki chainsaw duel. Untuk memenangkan duel tersebut, loe harus menekan tombol B secepat mungkin. Selain itu, loe juga masih bisa menghajar atau menginjak musuh yang sudah sekarat. Dengan begitu, maka GoW2 ini jadi terasa makin seru buat loe mainkan deh.

Friday, November 28, 2008

Call of Duty: World at War - Activision / Treyarch - First Person Shooters

Di awal permainan, elo bakal disuguhi adegan dimana elo jadi Private Miller, seorang serdadu Marine pihak Amerika lagi ketangkep sama tentara Jepang. Temen seperjuangan loe juga sama-sama ketangkep, tapi untungnya dia yang mati duluan. Kenapa untung? Karena nggak lama setelah dia mati, datang pasukan Commando yang nyelamatin elo dari kamp tahanan. Coba bayangin kalo bukan temen loe yang dibunuh, COD:WAW bisa jadi cuman sekedar CG doang tanpa gameplay. Tul gak? Hehehehehe...
Setelah diselamatin, sekarang elo dan pasukan Commando itu harus pergi nerobos kamp buat sampai ke pelabuhan. Ini bukan kerjaan mudah, dan disinilah elo mulai dikenalin sama konsep-konsep baru dari COD:WAW yang jauh beda sama cerita sebelumnya. Elo pasti masih inget di COD4:MW ada banyak temen-temen elo yang juga ikut berjuang dan AI mereka juga cukup pinter. Di COD:WAW pun nggak jauh beda, yang bikin beda adalah AI mereka yang jelas udah ditingkatin. Temen elo lebih tanggap dan reaktif terhadap apa yang terjadi di sekitar elo.

Tapi AI yang pinter ini nggak cuman ada di temen-temen elo aja. Musuh juga lebih pinter dibandingin sebelumnya. Elo bakal sering-sering kena serbuan musuh yang ngelakuin manuver membokong / flanking. Apalagi di tempat terbuka, siap-siap aja elo denger teriakan "Banzai" dan datanglah prajurit Jepang yang nyerang elo pake bayonet atau bahkan pedang samurai. Mereka bahkan juga bisa ngelempar balik granat dari elo, atau bahkan cepet-cepet nyingkir dari area ledakan. Pendek kata, buat elo yang seneng sama tantangan, elo bakal ngerasa di surga dan nggak pengen naruh stick Xbox 360 loe sampe game ini tamat.
Soal kontrol, masih gak jauh beda sama seri-seri sebelumnya. Veteran COD4:MW nggak bakal nemuin kesulitan soal kontrol di game ini. Elo bisa gerakin karakter pake analog kiri, dan tekan analog itu (LS) buat lari. Buat nengok dan ngarahin tembakan, elo pake analog kanan. Elo juga bisa tekan analog kanan (RS) buat serangan melee (belati, bayonet), dan juga buat berantem seperti halnya di COD4:MW waktu ngelawan anjing. Tombol X buat reload, Y buat ganti senjata, A buat loncat, dan B buat ganti posisi badan (berdiri, merunduk, dan tiarap). Selain reload, tombol X juga dipake buat action, seperti misalnya pakai senapan mesin, pindah posisi flak-gun, atau juga naruh bom di lokasi tertentu. Tombol LT buat bidik, dan RT buat nembak. Sedangkan buat granat, elo bisa pake LB buat lempar granat asap dan RB buat granat nanas. Selain itu, RB juga bisa dipake buat ngelempar balik granat yang dilempar musuh ke dekat elo.
Di COD:WAW elo bakal ngerasa bener-bener berada dalam sebuah pasukan yang berperang di PDII, karena elo selalu didampingi temen-temen elo. Bahkan di banyak misi, elo bakal ada di sebuah kondisi penyerbuan besar-besaran. Di misi-misi seperti itu, bakal banyak pasukan dari tim lain yang juga berlarian dan nyerbu tim lawan. Nggak cuman prajurit infanteri, tapi juga serangan artileri dan tank. Asyiknya lagi, bakal ada misi dimana elo berfungsi sebagai Radioman. Itu tuh, orang yang bawa-bawa telpon dan pesawat pemancar segede tas ransel. Tugas elo? Jelas manggil air strike, atau bahkan artileri.
Misi di pihak Amerika ini beragam dan musuhnya pun juga punya ciri khas. Loe bakal ngelakuin perang di Pasifik, bukan waktu Normandy atau D-Day lagi. Sekarang musuh loe adalah tentara Dai Nippon Teikoku Seihu, dan gerilya adalah taktik favorit mereka. Jadi, siap-siap aja elo bakal berada di area hutan, lengkap dengan parit-parit buatan, serta ngehadapin yang namanya sergapan / ambush. Sergapan biasanya dilakuin serdadu Jepang yang tau-tau nongol entah darimana, lengkap dengan daun-daun di sekujur tubuh mereka serja bayonet sambil berteriak "Banzai" dan berlari ke arah loe. Melee dan CQB adalah hal yang biasa elo temui ketika elo lagi ngejalanin misi Amerika, dan tombol RT adalah sahabat terbaik ketika si Banzai tadi ngelancarin serangan jarak dekat ke elo.


Selain jadi Marine Amerika, elo juga bakal ngejalanin misi sebagai Private Dimitri Petrenko, seorang Infantryman pihak Soviet. Di misi pihak negeri Beruang Merah ini, gue jamin elo bakal ngerasain deja vu kalau elo pernah nonton film Enemy at the Gates. Vassili Zaitsev, sang jagoan di film itu bertindak sebagai sniper yang harus ngebunuh perwira-perwira Nazi, dan bahkan harus duel versus sniper Nazi. Nah, elo juga harus ngelakuin hal yang sama karena elo sekarang berada di tumpukan mayat di Stalingrad. Tugas elo adalah merangkak keluar dari tumpukan mayat itu, tunggu pesawat bomber lewat supaya bunyi tembakan senapan elo tersamar, dan bantai semua prajurit Nazi yang ada di sekitar elo. Setelah itu, elo harus bisa kabur dari patroli Jerman yang juga dilengkapi dengan ras anjing pelacak terbaik di dunia, sambil tetap kelarin misi elo buat bunuh seorang Jenderal Nazi. Dan seperti halnya Vassili Zaitsev, elo juga bakal ngalamin yang namanya duel antar sniper.